Tampilkan postingan dengan label materi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label materi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

siklus air / siklus hujan

Daur / siklus hidrologi, siklus air, atau siklus H2O adalah sirkulasi yang tidak pernah berhenti dari air di bumi dimana air dapat berpindah dari darat ke udara kemudian ke darat lagi bahkan tersimpan di bawah permukaan dalam tiga fasenya yaitu cair (air), padat (es), dan gas (uap air). Daur hidrologi merupakan salah satu dari daur biogeokimia. Siklus hidrologi memainkan peran penting dalam cuaca, iklim, dan ilmu meteorologi. Keberadaan siklus hidrologi sangat significant dalam kehidupan. kita tidak akan lama-lama di bagian pembukaan, ayo kita segera meluncur ke detail-detail dari proses siklus hidrologi.


Meskipun keseimbangan air di bumi tetap konstan dari waktu ke waktu, molekul air bisa datang dan pergi, dan keluar dari atmosfer. Air bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, seperti dari sungai ke laut, atau dari laut ke atmosfer, oleh proses fisik penguapan, kondensasi, presipitasi, infiltrasi, limpasan, dan aliran bawah permukaan. Dengan demikian, air berjalan melalui fase yang berbeda: cair, padat, dan gas.

Siklus hidrologi melibatkan pertukaran energi panas, yang menyebabkan perubahan suhu. Misalnya, dalam proses penguapan, air mengambil energi dari sekitarnya dan mendinginkan lingkungan. Sebaliknya, dalam proses kondensasi, air melepaskan energi dengan lingkungannya, pemanasan lingkungan. Siklus air secara signifikan berperan dalam pemeliharaan kehidupan dan ekosistem di Bumi. Bahkan saat air dalam reservoir masing-masing memainkan peran penting, siklus air membawa signifikansi ditambahkan ke dalam keberadaan air di planet kita. Dengan mentransfer air dari satu reservoir ke yang lain, siklus air memurnikan air, mengisi ulang tanah dengan air tawar, dan mengangkut mineral ke berbagai bagian dunia. Hal ini juga terlibat dalam membentuk kembali fitur geologi bumi, melalui proses seperti erosi dan sedimentasi. Selain itu, sebagai siklus air juga melibatkan pertukaran panas, hal itu berpengaruh pada kondisi iklim di bumi.

Sebelum kita menginjak pada proses siklus hidrologi, mari kita pelajari istilah-istilah berikut ini :

Presipitasi
Uap air yang jatuh ke permukaan bumi. Sebagian besar presipitasi terjadi sebagai hujan, tetapi di samping itu, presipitasi juga menjadi salju, hujan es (hail), kabut menetes (fog drip), graupel, dan hujan es (sleet). Sekitar 505.000 km3 (121.000 cu mil) air jatuh sebagai presipitasi setiap tahunnya, 398.000 km3 (95.000 cu mi) dari terjadi di atas lautan.
Canopy intersepsi
Pengendapan yang dicegat oleh dedaunan tanaman dan akhirnya menguap kembali ke atmosfer daripada jatuh ke tanah.
Pencairan salju
Limpasan yang dihasilkan oleh salju mencair.
Limpasan (runoff)
Berbagai cara dengan mana air bergerak di seluruh negeri. Ini mencakup baik limpasan permukaan (surface runoff) dan limpasan saluran (channel runoff). Karena mengalir, air dapat merembes ke dalam tanah, menguap ke udara, menjadi disimpan di danau atau waduk, atau diekstraksi untuk keperluan manusia pertanian atau lainnya.
Infiltrasi
Aliran air dari permukaan tanah ke dalam tanah. Setelah disusupi, air menjadi kelembaban tanah (soil moisture) atau air tanah (groundwater).
Arus Bawah Permukaan
Aliran air bawah tanah, di zona Vadose dan akuifer. Air bawah permukaan dapat kembali ke permukaan (misalnya sebagai pegas atau dipompa) atau akhirnya meresap ke dalam lautan. Air kembali ke permukaan tanah pada elevasi lebih rendah dari tempat itu disusupi, di bawah tekanan gaya gravitasi atau gravitasi diinduksi. Tanah cenderung bergerak lambat, dan diisi kembali perlahan-lahan, sehingga dapat tetap dalam akuifer selama ribuan tahun.
Penguapan
Transformasi air dari cair ke fase gas ketika bergerak dari tanah atau badan air ke atmosfer atasnya. Sumber energi untuk penguapan terutama radiasi matahari. Penguapan banyak yang implisit meliputi transpirasi dari tanaman, meskipun bersama-sama mereka secara khusus disebut sebagai evapotranspirasi. Jumlah evapotranspirasi tahunan total sekitar 505.000 km3 (121.000 cu mi) volume air, 434.000 km3 (104.000 cu mi) yang menguap dari lautan.
Sublimasi
Perubahan wujud secara langsung dari air padat (salju atau es) untuk uap air.
Adveksi
Gerakan air - dalam wujud padat, cair, atau uap - melalui atmosfer. Tanpa adveksi, air yang menguap dari lautan tidak bisa jatuh sebagai presipitasi di atas tanah.
Kondensasi
Transformasi uap air untuk tetesan air cair di udara, awan dan kabut adalah wujudnya.
Transpirasi
Pelepasan uap air dari tanaman dan tanah ke udara. Uap air adalah gas yang tidak dapat dilihat.

PROSES SIKLUS HIDROLOGI

Sama seperti proses fotosintesis pada siklus karbon, matahari juga berperan penting dalam siklus hidrologi. Matahari merupakan sumber energi yang mendorong siklus air, memanaskan air dalam samudra dan laut. Akibat pemanasan ini, air menguap sebagai uap air ke udara. 90 % air yang menguap berasal dari lautan. Es dan salju juga dapat menyublim dan langsung menjadi uap air. Selain itu semua, juga terjadi evapotranspirasi air terjadi dari tanaman dan menguap dari tanah yang menambah jumlah air yang memasuki atmosfer.

Setelah air tadi menjadi uap air, Arus udara naik mengambil uap air agar bergerak naik sampai ke atmosfir. Semakin tinggi suatu tempat, suhu udaranya akan semakin rendah. Nantinya suhu dingin di atmosfer menyebabkan uap air mengembun menjadi awan. Untuk kasus tertentu, uap air berkondensasi di permukaan bumi dan membentuk kabut.

Arus udara (angin) membawa uap air bergerak di seluruh dunia. Banyak proses meteorologi terjadi pada bagian ini. Partikel awan bertabrakan, tumbuh, dan air jatuh dari langit sebagai presipitasi. Beberapa presipitasi jatuh sebagai salju atau hail, sleet, dan dapat terakumulasi sebagai es dan gletser, yang dapat menyimpan air beku untuk ribuan tahun. Snowpack (salju padat) dapat mencair dan meleleh, dan air mencair mengalir di atas tanah sebagai snowmelt (salju yang mencair). Sebagian besar air jatuh ke permukaan dan kembali ke laut atau ke tanah sebagai hujan, dimana air mengalir di atas tanah sebagai limpasan permukaan.

Sebagian dari limpasan masuk sungai, got, kali, lembah, dan lain-lain. Semua aliran itu bergerak menuju lautan. sebagian limpasan menjadi air tanah disimpan sebagai air tawar di danau. Tidak semua limpasan mengalir ke sungai, banyak yang meresap ke dalam tanah sebagai infiltrasi. Infiltrat air jauh ke dalam tanah dan mengisi ulang akuifer, yang merupakan toko air tawar untuk jangka waktu yang lama. Sebagian infiltrasi tetap dekat dengan permukaan tanah dan bisa merembes kembali ke permukaan badan air (dan laut) sebagai debit air tanah. Beberapa tanah menemukan bukaan di permukaan tanah dan keluar sebagai mata air air tawar. Seiring waktu, air kembali ke laut, di mana siklus hidrologi kita mulai.

PERAN DALAM SIKLUS BIOGEOKIMIA

Selain siklus hidrologi adalah siklus biogeokimia sendiri, aliran air di atas dan di bawah bumi adalah komponen kunci dari perputaran siklus biogeokimia lainnya. Limpasan bertanggung jawab untuk hampir semua transportasi sedimen terkikis dan fosfor dari darat ke badan air. Salinitas lautan berasal dari erosi dan transportasi garam terlarut dari tanah. Eutrofikasi danau terutama disebabkan fosfor, diterapkan lebih untuk bidang pertanian di pupuk, dan kemudian diangkut sungai darat dan bawah. Limpasan dan aliran air tanah memainkan peran penting dalam pengangkutan nitrogen dari tanah ke badan air. Zona mati di outlet Sungai Mississippi merupakan konsekuensi dari nitrat dari pupuk terbawa bidang pertanian dan disalurkan ke sistem sungai ke Teluk Meksiko. Limpasan juga memainkan peran dalam siklus karbon, sekali lagi melalui pengangkutan batu terkikis dan tanah.

sumber : Klik disini

Selasa, 31 Januari 2012

perubahan iklim

Perubahan iklim merupakan ancaman signifikan dan muncul untuk kesehatan masyarakat, dan perubahan cara kita harus melihat melindungi populasi rentan.

WHO memiliki program aktif dan panjang berdiri di melindungi kesehatan dari perubahan iklim, dipandu oleh resolusi Majelis Kesehatan Dunia. Melalui negaranya, regional dan kantor pusat kantor, WHO memberikan bukti dan mendukung proyek-proyek pengembangan kapasitas dan implementasi untuk memperkuat respon sistem kesehatan terhadap perubahan iklim, dan untuk memastikan kesehatan yang tepat dipertimbangkan dalam keputusan yang dibuat oleh sektor lain, seperti energi dan transportasi. Organisasi ini juga memberikan suara sektor kesehatan dalam respon PBB secara keseluruhan untuk tantangan global.

sumber : http://www.who.int/globalchange/en/

Minggu, 29 Januari 2012

Polusi atau Pencemaran lingkungan



Polusi atau pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat energi, dan atau komponen lain ke dalam lingkungan, atau berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam sehingga kualitas lingkungan turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Undang-undang Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 4 Tahun 1982).

Zat atau bahan yang dapat mengakibatkan pencemaran disebut polutan. Syarat-syarat suatu zat disebut polutan bila keberadaannya dapat menyebabkan kerugian terhadap makhluk hidup. Contohnya, karbon dioksida dengan kadar 0,033% di udara berfaedah bagi tumbuhan, tetapi bila lebih tinggi dari 0,033% dapat rnemberikan efek merusak.

Suatu zat dapat disebut polutan apabila:
1. jumlahnya melebihi jumlah normal
2. berada pada waktu yang tidak tepat
3. berada pada tempat yang tidak tepat

Sifat polutan adalah:
1. merusak untuk sementara, tetapi bila telah bereaksi dengan zat
lingkungan tidak merusak lagi

2. merusak dalam jangka waktu lama.
Contohnya Pb tidak merusak bila konsentrasinya rendah. Akan tetapi
dalam jangka waktu yang lama, Pb dapat terakumulasi dalam tubuh
sampai tingkat yang merusak.

Macam-macam Pencemaran
Macam-macam pencemaran dapat dibedakan berdasarkan pada tempat terjadinya, macam bahan pencemarnya, dan tingkat pencemaran.

a. Menurut tempat terjadinya
Menurut tempat terjadinya, pencemaran dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu pencemaran udara, air, dan tanah.

1. Pencemaran udara
Pencemar udara dapat berupa gas dan partikel. Contohnya sebagai berikut.
a. Gas HzS. Gas ini bersifat racun, terdapat di kawasan gunung berapi,
bisa juga dihasilkan dari pembakaran minyak bumi dan batu bara.

b. Gas CO dan COz. Karbon monoksida (CO) tidak berwarna dan tidak
berbau, bersifat racun, merupakan hash pembakaran yang tidak
sempurna dari bahan buangan mobil dan mesin letup. Gas COZ dalam
udara murni berjumlah 0,03%. Bila melebihi toleransi dapat meng-
ganggu pernapasan. Selain itu, gas C02 yang terlalu berlebihan di
bumi dapat mengikat panas matahari sehingga suhu bumi panas.
Pemanasan global di bumi akibat C02 disebut juga sebagai efek rumah
kaca.

c. Partikel SOZ dan NO2. Kedua partikel ini bersama dengan partikel cair
membentuk embun, membentuk awan dekat tanah yang dapat
mengganggu pernapasan. Partikel padat, misalnya bakteri, jamur,
virus, bulu, dan tepung sari juga dapat mengganggu kesehatan.

d. Batu bara yang mengandung sulfur melalui pembakaran akan meng-
hasilkan sulfur dioksida. Sulfur dioksida ber$ama dengan udara serta
oksigen dan sinar matahari dapat menghasilkan asam sulfur. Asam ini
membentuk kabut dan suatu saat akan jatuh sebagai hujan yang
disebut hujan asam. Hujan asam dapat menyebabkan gangguan pada
manusia, hewan, maupun tumbuhan. Misalnya gangguan pernapasan,
perubahan morfologi pada daun, batang, dan benih.

Sumber polusi udara lain dapat berasal dari radiasi bahan radioaktif, misalnya, nuklir. Setelah peledakan nuklir, materi radioaktif masuk ke dalam atmosfer dan jatuh di bumi. materi radioaktif ini akan terakumulusi di tanah, air, hewan, tumbuhan, dan juga pada manusia. Efek pencemaran nuklir terhadap makhluk hidup, dalam taraf tertentu, dapat menyebabkan mutasi, berbagai penyakit akibat kelainan gen, dan bahkan kematian.

Pencemaran udara dinyatakan dengan ppm (part per million) yang artinya jumlah cm3 polutan per m3 udara.

2. Pencemaran air
Polusi air dapat disebabkan oleh beberapa jenis pencemar sebagai berikut.

a. Pembuangan limbah industri, sisa insektisida, dan pembuangan
sampah domestik, misalnya, sisa detergen mencemari air. Buangan
industri seperti Pb, Hg, Zn, dan CO, dapat terakumulasi dan bersifat
racun.

b. Sampah organik yang dibusukkan oleh bakteri menyebabkan 02 di air
berkurang sehingga mengganggu aktivitas kehidupan organisme air.

c. Fosfat hasil pembusukan bersama h03 dan pupuk pertanian
terakumulasi dan menyebabkan eutrofikasi, yaitu penimbunan mineral
yang menyebabkan pertumbuhan yang cepat pada alga (Blooming
alga). Akibatnya, tanaman di dalam air tidak dapat berfotosintesis
karena sinar matahari terhalang.

Salah satu bahan pencemar di laut ada lah tumpahan minyak bumi, akibat kecelakaan kapal tanker minyak yang sering terjadi. Banyak organisme akuatik yang mati atau keracunan karenanya. (Untuk membersihkan kawasan tercemar diperlukan koordinasi dari berbagai pihak dan dibutuhkan biaya yang mahal. Bila terlambat penanggulangan-nya, kerugian manusia semakin banyak. Secara ekologis, dapat mengganggu ekosistem laut.

Bila terjadi pencemaran di air, maka terjadi akumulasi zat pencemar pada tubuh organisme air. Akumulasi pencemar ini semakin meningkat pada organisme pemangsa yang lebih besar.

3. Pencemaran tanah
Pencemaran tanah disebabkan oleh beberapa jenis pencemaran berikut ini :
a. sampah-sampah pla.stik yang sukar hancur, botol, karet sintesis,
pecahan kaca, dan kaleng
b. detergen yang bersifat non bio degradable (secara alami sulit
diuraikan)
c. zat kimia dari buangan pertanian, misalnya insektisida.

4. Polusi suara
Polusi suara disebabkan oleh suara bising kendaraan bermotor, kapal terbang, deru mesin pabrik, radio/tape recorder yang berbunyi keras sehingga mengganggu pendengaran.
b. Menurut macam bahan pencemar
Macam bahan pencemar adalah sebagai berikut.

1. Kimiawi; berupa zat radio aktif, logam (Hg, Pb, As, Cd, Cr dan Hi),
pupuk anorganik, pestisida, detergen dan minyak.
2. Biologi; berupa mikroorganisme, misalnya Escherichia coli, Entamoeba
coli, dan Salmonella thyposa.
3. Fisik; berupa kaleng-kaleng, botol, plastik, dan karet.

c. Menurut tingkat pencemaran
Menurut WHO, tingkat pencemaran didasarkan pada kadar zat pencemar dan waktu (lamanya) kontak. Tingkat pencemaran dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut :

1. Pencemaran yang mulai mengakibatkan iritasi (gangguan) ringan pada
panca indra dan tubuh serta telah menimbulkan kerusakan pada
ekosistem lain. Misalnya gas buangan kendaraan bermotor yang
menyebabkan mata pedih.
2. Pencemaran yang sudah mengakibatkan reaksi pada faal tubuh dan
menyebabkan sakit yang kronis. Misalnya pencemaran Hg (air raksa)
di Minamata Jepang yang menyebabkan kanker dan lahirnya bayi
cacat.
3. Pencemaran yang kadar zat-zat pencemarnya demikian besarnya
sehingga menimbulkan gangguan dan sakit atau kematian dalam
lingkungan. Misalnya pencemaran nuklir.
2. Parameter Pencemaran
Dengan mengetahui beberapa parameter yang ads pads daerah/kawasan penelitian akan dapat diketahui tingkat pencemaran atau apakah lingkungan itu sudah terkena pencemaran atau belum. Paramaterparameter yang merupakan indikator terjadinya pencemaran adalah sebagai berikut :
a. Parameter kimia
Parameter kimia meliputi C02, pH, alkalinitas, fosfor, dan logam-logam
berat.
b. Parameter biokimia
Parameter biokimia meliputi BOD (Biochemical Oxygen Demand), yaitu
jumlah oksigen dalam air. Cars pengukurannya adalah dengan
menyimpan sampel air yang telah diketahui kandungan oksigennya
selama 5 hari. Kemudian kadar oksigennya diukur lagi. BOD digunakan
untuk mengukur banyaknya pencemar organik.

Menurut menteri kesehatan, kandungan oksigen dalam air minum atau BOD tidak boleh kurang dari 3 ppm.

c. Parameter fisik
Parameter fisik meliputi temperatur, warna, rasa, bau, kekeruhan, dan radioaktivitas.

d. Parameter biologi
Parameter biologi meliputi ada atau tidaknya mikroorganisme, misalnya, bakteri coli, virus, bentos, dan plankton.

SUMBER : KLIK DISINI

Cara Melatih Anjing Anda

Anjing adalah binatang cerdas. Mereka telah dilatih untuk melacak narkoba dan bahan peledak, membantu para penyandang cacat, dan melaksanakan misi-misi pencarian dan penyelamatan. Nah, bagaimana Anda dapat melatih anjing Anda agar dia patuh?

Sifat Bawaan

Pertama-tama, Anda perlu tahu sifat bawaan anjing. Seperti halnya serigala, anjing secara naluri hidup berkelompok di bawah satu pemimpin. Anjing Anda menganggap keluarga Anda sebagai kelompoknya, dan dia harus mengerti bahwa Andalah sang pemimpin.

Dalam sekawanan serigala, sang pemimpin akan memilih tempat yang terhangat dan tertinggi untuk tidur. Ia juaga makan sebelum yang lainnya. Jadi, jika anjing Anda dibiarkan tidur di tempat ridur Anda atau naik ke perabotan, dia akan menyimpulkan bahwa dialah sang pemimpin. Hal yang sama dapat terjadi jika dia diberi potongan makanan pada waktu Anda sedang makan.

Bahkan anjing Anda dapat diajari sejak kecil bahwa dia di bawah Anda. Bagaimana? Coba tatap terus matanya sampai dia berpaling. Bentuk latihan lain yang bagus adalah mengusap-usap perutnya sewaktu dia sedang terlentang, karena hal ini menempatkannya dalam posisi sebagai bawahan. Seandainya anjing Anda nakal dan tetap saja berulah sewaktu Anda mengatkan “Stop”, coba abaikan dia dan tinggalkan ruangan.

Apabila anjing Anda mematuhi perintah-perintah Anda, itu tandanya dia mengakui bahwa Andalah pemimpinnya. Seandainya Anda sebagai pemimpin, anjing Anda dapat menyimpulkan bahwa dia setara dengan atau lebih tinggi daripada Anda, dan hal ini dapat mempengaruhi perilakunya.

Cara Mengajarkan Perintah Sederhana

Untuk mengajarkan perintah-perintah dasar kepada anjing Anda, Anda butuh kalung, tali, dan segudang kesabaran. Salah satu buku petunjuk menyarankan :

  1. Berilah perintah sederhana dengan satu kata.
  2. Peragakan tindakan yang Anda inginkan.
  3. Segeralah puji jika dia melakukannya.

Nada suara Anda lebih penting daripada kata-kata Anda. Sebuah perintah harus bernada tegas, dan pujian harus bernada gembira dan hangat.

Hukuman fisik, seperti memukul atau menendang, tidak diperlukan. “Saya cukup mengatakan ‘Stop’ dengan nada tajam dan tinggi agar anjing itu tahu bahwa saya tidak senang dengan perilakunya,”kata Marcos, sang pelatih yang di kutip di awal. Ia menambahkan, “Anjing cukup cerdas untuk membedakan apakah Anda sedang memujinya atau memarahinya.”

Jika Anda harus bertindak lebih keras, peganglah tengkuknya dan guncangkan dengan perlahan sambil mengatakan “Stop”. Teguran harus di berikan sewaktu atau segera setelah anjing itu melakukan sesuatu yang tidak diingikan. Ingat, seekor anjing tidak akan tahu mengapa ia di marahi beberapa menit atau jam setelah kenalakannya. Ia juga tidak dapat mengerti mengapa tindakannya kadang-kadang di perbolehkan dan kadang-kadang tidak. Jadi, Anda harus konsisten.

Perintah yang paling dasar adalah “Duduk!” Seandainya anjing Anda mengerti perintah ini, Anda dapat mengendalikannya jika dia menjadi terlalu bersemangat. Misalnya, Anda dapat menyuruhnya duduk jika dia mulai melompat ke arah tamu. Untuk mengajar anjing Anda duduk, pasanglah talinya, dan berikan perintah itu sambil menekan bagian belakang tubuhnya ke bawah dan menarik kepalanya ke atas dengan lembut menggunakan tali. Kemudian, langsung puji. Ulangi langkah-langkah ini samapai anjing Anda mematuhinya. untuk mengajar anjing Anda agar tetap duduk, gunakan perintah “Diam!” sambil berdiri di depannnya dan merentangkan tangan Anda ke arahnya dengan telapak menghadap ke bawah. Seandainya dia bergerak, katakan “Stop” dan kembalikan dia ke posisi semula. Ulangi perintah ini, dan pujilah anjing Anda bila dia tetap duduk untuk suatu waktu. Jika dia menaati perintah itu, perpanjanglah waktu duduknay dan juga jarak antara Anda dan anjing Anda secara bertahap.

Cara terbaik untuk mengajar anjing Anda agar mendekat adalah dengan menggunakan tali yang panjang dan menariknya dengan lembut sambil memberikan perintah “Sini!” Sewaktu dia mendekati Anda, mundurlah sambil terus memuji dia. Tidak lama kemudian ia akan menuruti Anda tanpa perlu ditarik dengan tali. Jika anjing Anda meronta dan tidak mau menuruti perintah “Sini!”, panggilah dan berlarilah menjauh. Biasanya, anjing akan secara naluri mengejar.

Berhati-hatilah : Jangan pernah menggunakan kata “sini” untuk alasan buruk, seperti untuk memarahi. Anjing Anda harus belajar bahwa menaati perintah “Sini” akan mendatangkan hasil yang menyenangkan. Jika Anda mengajarkan perintah ini sambil marah-marah, anjing Anda akan menyimpulkan bahwa perintah ini tidak menyenangkan dan harus dihindari.

Anda juga dapat mengajar anjing Anda berjalan dismping Anda, tidak mendahului atau tertinggal. Untuk itu, gunakan kalung rantai latihan dan tali pendek. Tarulah anjing di sisi kiri Anda lalu beri perintah “Jalan!” sambil melangkah dengan kaki kiri. Jika dia mencoba mendahului Anda atau tertinggal, entakkan tali dengan cepat sambil menepuk lutut kiri Anda dan mengatakan “kaki”. Pujilah bila dia patuh.

Bagaimana cara melatih anjing Anda agar tidak melompat ke arah Anda? Metode pertama mundurlah sambil memberi perintah “Mundur!” dan selanjutnya perintahkan “Duduk!” Metode lain adalah menangkap kedua kaki depannya dan maju ke arahnya sambil mengulangi perintah “Mundur!” Pujilah sewaktu dia menurut.

Sahabat Yang Setia

Ingat, anjing adalah binatang yang suka berteman. Jika terlalu lama dikurung, dia akan menjadi hiperaktif,terus-menerus menggongong, dan suka merusak. Dengan pelatihan yang tepat, anjing Anda bisa menjadi sahabat setia yang menyenangkan-bukan menjadi penggangu.

Selasa, 28 Desember 2010

LandasanTeori

TELAAH TEORI

- Tetapkan nama variabel yang diteliti
- Cari sumber bacaan yang relevan
- Lihat daftar isi buku
- Baca seluruh isi topik
- Deskripsikan teori

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN

- Sebagai penjelas
- Sebagai prediksi
- Sebagai kontrol

PENELITIAN EMPIRIS

- PENELITIAN SEBELUMNYA DAPAT DIPERGUNAKAN UNTUK:
- Mengetahui kekurangan-kekurangan penelitaian sebelumnya
- Mengetahui apa yang telah dihasilkan dari penelitian sebelumnya
- Mengetahui perbedaan dengan penelitian sebelumnya

PENYAJIAN PENELITIAN EMPIRIS DALAM LAPORAN PENELITIAN

Nama Peneliti (th)
1..................
2..................
3dst

Judul Penelitian
1................
2................
3dst

Tujuan Penelitian
1................
2................
3dst

Alat Analisis
1............
2............
3dst


Hasil enelitian
1................
2................
3dst

semoga bisa membantu (mohon komennya)

FRAMEWORK FOR THINKING

FRAMEWORK FOR THINKING
- overall framework of thought is a miniature of the research process
- The framework of thought should explain:
- Why do research?
- How is the research done?
- What will be obtained from these studies?
- To what penelitain results obtained?


Frame of mind to explain the theoretical linkage between variables to be studied. So in teorotis need to clarify the relationship between independent and dependent variables.

Uma have now (2003) suggests that frame of mind that both contain the following:
1. The variables to be studied should be explained
2. Must be able to demonstrate and explain the linkage / relationship between variables under study
3. What is the relationship between variables is positive or negative
4. Frame of mind will then need to be expressed in the form of diagrams / schemes so that others can understand the conceptual framework proposed in this research

hopefully can help (please komen)

KERANGKA PEMIKIRAN

- Kerangka pemikiran merupakan miniatur keseluruhan dari proses penelitian
- Kerangka pemikiran harus menerangkan:
- Mengapa penelitian dilakukan ?
- Bagaimana proses penelitian dilakukan ?
- Apa yang akan diperoleh dari penelitian tersebut?
- Untuk apa hasil penelitain diperoleh?

KERANGKA PEMIKIRAN

Kerangka berpikir menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teorotis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen.

Uma Sekaran (2003) mengemukakan bahwa kerangka berpikir yang baik memuat hal-hal sebagai berikut :
1. Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan
2. Harus dapat menunjukkan dan menjelaskan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti
3. Apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif
4. Kerangka berpikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram/skema sehingga pihak lain dapat memahami kerangka pikir yang dikemukakan dalam penelitian

semoga bisa membantu (mohon komennya)

Selasa, 13 April 2010

Rabu, 17 Februari 2010

askep komunitas

askep komunitas cara memberi penyuluhan tinggal klik aja alamat ini :
http://www.ziddu.com/download/8633318/CARAMEMBERIPENYULUHAN.doc.html

Minggu, 20 Desember 2009

KAJIAN TEORI ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MENINGITIS

Kajian Teori Meningitis
1. Pengertian Meningitis
Pengertian Meningitis menurut beberapa ahli dapat dilihat dalam penjelasan dibawah ini:
a. Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat ( Suriadi dan Rita, 2001 ).
b. Meningitis adalah radang pada meningen ( membrane yang mengelilingi otak dan medulla spinalis ) dan disebabkan oleh virus, bakteri atau organ-organ jamur ( Brunner and Suddarth, 2002 ).
c. Meningitis adalah radang umum pada arakhnoid dan piameter disebabkan oleh bakteri, virus riketsia atau protozoa yang dapat terjadi secara akut dan kronis ( Manjoer, 2000 ).
Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa meningitis adalah peradangan pada selaput meningen yang dapat disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa, riketsia, maupun organ-organ jamur yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat yang terjadi secara akut maupun kronis.

2. Klasifikasi Meningitis
Menurut Mansjoer ( 2000 ), Menuingitis dapat dibedakan menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu:
a. Meningitis serosa yaitu radang selaput otak ( arakhnoid dan piameter ) yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Mycobacterium tuberculosa. Penyebab lain seperti lues, virus toxoplasma gondhii, Ricketsia.
b. Meningitis prulenta yaitu radang bernanah arakhnoid dan piameter yang meliputi otak dan medulla spinalis. Penyebabnya antara lain: Diplococus pneumoniae ( pneumokok ), Neisseria meningitides ( meningokok ), Streptococcus haemolitycus, Staphylococcus aureus, Haemophilus influenzae, Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas aeruginosa.
Menurut Brunner and Suddarth ( 2002 ), Meningitis dapat diklasifikasikan menjadi 3 golongan, yaitu:
a. Meningitis aseptic mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukimia, atau darah di ruang subarakhnoid.
b. Meningitis sepsis menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningococcus, stafilococcus, atau basilus influenza.
c. Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basilus tuberkel.

3. Etiologi Meningitis
Penyebab timbulnya Meningitis menurut Suriadi dan Rita, 2001, yaitu:
a. Bakteri: Haemophilus influenza ( tipe B ), Streptococcus pneumoniae, Neisseria meningitides, ß- Hemolitic streptococcus, Staphylococcus aureus, E. Coli.
b. Faktor predisposisi: jenis kelamin laki-laki lebih sering dibandingkan dengan wanita.
c. Faktor maternal: ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
d. Faktor imunologi: defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin, anak yang mendapat obat-obat imunosupresi.
e. Anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.


4. Manifestasi Meningitis
Menurut Suriadi dan Rita, 2001, manifestasi klinis dari meningitis yaitu:
a. Neonatus: menolak untuk makan, refleks menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan menangis lemah.
b. Anak-anak dan remaja: demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang, mudah terstimulasi dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, stupor, koma, kaku kuduk, opistotonus, tanda kernig dan brudzinski positif, refleks biologis hiperaktif, ptechiae atau pruritus ( menunjukkan adanya infeksi meningococcal ).
c. Bayi dan anak-anak ( usia 3 bulan hingga 2 tahun ): demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dan merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, serta tanda kernig dan brunzinski positif.

Akibat dari proses peradangan meningen yaitu kelainan-kelainan neurologik dapat menimbulkan terjadinya perubahan persepsi sensorik serta terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan system saraf pada anak. Hal ini akan berdampak pada terjadinya gangguan intelektual dan psikiatris pada anak yang bila berlangsung dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan terjadinya perubahan pertumbuhan dan perkembangan.


Teori Asuhan Keperawatan
I. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien ( lyer at al., dalam Nursalam,2001 )
Pengkajian pada anak dengan meningitis menurut Doengoes (2001) adalah sebagai berikut :
1) Aktifitas/istirahat
Gejala : Perasaan tidak enak/ malaise, keterbatasan yang ditimbulakn oleh
kondisinya.
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara umum,keterbatasan dalam rentang gerak, hipotonia.
2) Sirkulasi
Gejala : Adanya riwayat kardiopatologi seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung kongenita ( abses otak ).
Tanda : Tekanan darah meningkat,nadi menurun, dan tekana nadi berat (berhubungan dengan peningkat TIK dan pengaruh pusat vasomotor),takikardia, disritmia( pada fase akut ), seperti disritmia sinus ( pada menimgitis )
3) Eliminasi
Tanda : adanya inkontinensia dan /atau retensi
4) Makanan / cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan, kesulitan menelan ( pada periode akut ).
Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membran mukosa kering
5) Hygine
Tanda : ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri ( pada periode akut ) .
6) Neuro sensori
Gejala : sakit kepala, parestesia,terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensai (kerusakan pada saraf cranial),hiperalgesia,meningkatnya sensitifitas pada nyeri (meningitis),timnul kejang,ganguan dalam penglihatan seperti diplopia (fase awal dari beberapa infeksi), fotofobia, ketulian dan mungkin hipersensitif terhadap kebisingan,adanya halusinasi penciuman atau sentuhan.
Tanda : status mental atau tingkat kesadaran ; retargi sampai kebungungan yang berat hingga, delusi dan halusinasi atau psikosis organic, kehilangan memori, sulit dalam mengambil keputusan, kesulitan dalam berkomunikasi,pupil anisokor/ tidak berespon terhadap cahaya (peningkatan TIK),nistagmus ( bola bergerak terus-menerus), ptosis ,karakteristik facial/wajah(perubahan pada fungsi motorik dan sensorik saraf cranial V dan VII terkena),kejang umum / local,kejang lobus temporal,otot mengalami hipotenia,spastic,hemiparese,tanda Brudzinski positif dan/ atau tanda Kernig positif, rigiditas nukal, refleks tendon dalam terganggu, Babinskipositif, refleks abdominal menurun/tidak ada,refleks kremastetik hilang pada laki-laki.
7) Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, mungkin akan diperburuk oleh ketegangan, leher atau
punggumg kaku,nyeri pada gerakan ocular, fotosensitifitas, tenggorokan
nyeri.
Tanda : tampak terus terjaga, perilaku distraksi/gelisah, mengangis atau
mengaduh/mengeluh.
8) Pernafasan
Gejala : adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : peningkatan kerja pernafasan ( episode awal ), perubahan mental ( letargi
sampai koma ) dan gelisah.
9) Keamanan
Gejala : adanya riwayat infeksi saluran nafas atas/infeksi lain meliputi
mastoiditis,telinga tengah, sinus, abses gigi, infeksi pelvis,
abdomen/kulit, pungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak/
cedera kepala, anemia sel sabit, imunisasi yang baru saja berlangsung,
terpajan pada meningitis, terpajan oleh campak, terpajan oleh chicken
fox, herpes simpleks, mononucleosis,gigitan binatang, benda asing yang
terbawa.
Tanda : Suhu meningkat, diaforesis, mengigil, adanya ras, purpura menyeluruh,
perdarahan subkutan, kelemahan secara umum, tonus otot flaksid atau
spastic, paralisis/ paresis, gangguan sensasi.
10 ) Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : adayan riwayat menggunakan obat, hipersensitifitas terhadap obat, masalah medis sebelumnya, seperti penyakit kronis/gangguan umum,alkoholisme, DM, splenektomi, implantasi pirau ventrikel
11) Pemeriksaan Diagnostik
a. Analisa CSS dari pungsi lumbal :
Meningitis bacterial : tekanan meningkta, cairab keruh / berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat, glukosa menurun,kultur positi terhadap beberapa jenis bakteri
Meningitis virus : Tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dam protein biasanya normal.kultur biasanya negative, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.
b. Glukosa serum meningkat.
c. LDH serum meningkat ( biaasanya pada meningitis bakteri )
d. Sel darah putih sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi bakteri )
e. Elektrolit darah abnormal
f. ESR/LED menigkat
g. Kultur darah/ hidung/tenggorokan/urine dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengidikasikan tipe penyebab infeksi
h. MRI/ CT Scan dapat membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel,hematom daerah serebral, hemoragik/ tumor
i. EEG mungkin terlihat gelombang lambat secara fokal/ umum/foltasenya meningkat
j. Rontgen dada,kepala dan sinus mungkin ada indikasi infeksi/sumber infeksi intracranial
k. Arteriografi karotis letak abses lobus temporal, abses serebral posterior

II. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa ke[erawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan/resiko perubahan) dari individu/kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi,mencegah, dan merubah ( Carpenito,dalam Nursalam 2001)
Langkah-langkah dalam menentukan diagnosa keperawatan meliputi klarifikasi dan analisa data, interpretasi data, validasi data,dan perumusan diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan pada meningitis menurut Doengoes ( 2001), yaitu :
1. Risiko terhadap penyebaran infeksi b/d desiminata hematogen dari pathogen, status cairan tubuh, penekanan respon inflamasi ( akibat obat), pemajanan orang lain terhadap pathogen
2. Risiko terhadap perubahan perfusi jaringan serebral b/d edema serebra yang menghentikan / mengubah aliran darah arteri / vena, hipovolemia, masalah pertukaran pada tingkat seluler( asidosis).
3. Resiko terhadap trauma b/d irirtasi korteks serebra mempredisposisikan muatan neural dan aktifitas kejang umum, keterlibatan area local (kejang fokal), kelemahan umum, parestesia, paralysis, ataksia, vertigo.
4. Nyeri akut b/d agen pencedera biologis, adanya proses infeksi / inflamasi, toksin dalam sirkulasi.
5. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan neuromuscular, penurunan kekuatan/ketahanan, kerusakan persepsi atau kognitif , nyeri / ketidaknyamanan, terapi pembatasan ( tirah baring).
6. Perubahan persepsi sensori b/d perubahan resepsi sensori,transmisi/integrasi.
7. Ansietas b/d krisis situasi ; transmisi interpersonal dan keikutsertaan merasakan, ancaman kematian/perubahan,dalam status kesehatan, pemisahan dari system pendukung ( hospitalisai )
8. Kurang pengetahuan ortu mengenai penyebab infeksi dan kebutuhan pengobatan b/d kurang pemajanan, kesalahan interpretasi informasi, kurang mengingat, keterbatasan kognitif.
Selain itu, menurut Suriadi dan Rita (2001), diagnosa keperawatan yang muncul pada meningitis selain yang diungkapan menurut Doengoes diatas yaitu :
9. Gangguan pertukaran gas b/d meningkatnya TIK
10. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas b/d kelemahan otot-otot pernafasan, ketidakmampuan untuk batuk dan penurunan kesadaran
11. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d anoreksia,lemah,mual dan muntah.
Menurut Carpenito (2000), Diagnosa keperawatan lain yang dpat muncul pad kasus mengitis diantaranya :
12. Hipertermia b/d proses peradangan selaput meningen
13. Perubahan pertumbuhan dan perkembangan b/d melemahnya kemampuan fisik dan ketergantungan sekunder akibat kerusakan neurologis

III. INTERVENSI
Rencana keperawatan pada asuhan keperawatan pada Meningitis adalah
( Dongoes, 2001 ):
Dx 1
Tujuan:
Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran endogen atau keterlibatan orang lain.
Intervensi:
a. Pantau tanda vital.
Rasional: mengetahui terjadinya komplikasi yang fatal.
b. Pertahankan teknik aseptik dan teknik cuci tangan yang tepat bagi pasien, pengunjung maupun staf.
Rasional: menurunkan resiko pasien terkena infeksi sekunder.
c. Batasi pengunjung.
Rasional: menurunkan pemajanan terhadap patogen infeksi lain.
d. Delegatif pemberian antibiotik sesuai indikasi dengan hasil kultur CSS.
Rasional: obat ini dapat membunuh kuman patogen.

Dx 2
Tujuan:
Mempertahankan tingkat kesadaran membaik, fungsi sensorik dan motorik yang optimal, perbaikan kognitif serta tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Intervensi:
a. Kaji vital sign secara teratur.
Rasional: perubahan TIK dapat mempengaruhi tanda vital pasien.
b. Pantau status neurologis secara teratur.
Rasional: pemantauan awal terhadap perubahan tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK.
c. Berikan waktu istirahat antara aktivitas perawatan dan batasi lamanya tindakan tersebut.
Rasional: mencegah kelelahan yang berlebihan dan mengurangi paningkatan TIK melalui pengurangan aktivitas.
d. Kolaborasi dalam pemberian posisi kepala 12-45 derajat sesuai toleransi/indikasi.
Rasional: peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK.
e. Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
Rasional: membantu dalam menurunkan TIK, mengurangi edema otak sesuai dengan indikasi.

Dx 3
Tujuan:
Tidak mengalami cedera kejang/penyerta atau cedera lain.
Intervensi:
a. Pantau adanya kejang/kedutan pada tangan, kaki dan mulut atau otot wajah yang lain.
Rasional: mencerminkan adanya iritasi SSP secara umum yang memerlukan evaluasi segera dan intervensi yang mungkin untuk mencegah komplikasi.
b. Berikan keamanan pada pasien dengan memberi bantalan pada tempat tidur, pertahankan penghalang tempat tidur tetap terpasang.
Rasional: melindungi pasien jika terjadi kejang.
c. Pertahankan tirah baring selama fase akut.
Rasional: menurunkan risiko terjatuh/trauma ketika terjadi vertigo, sinkope atau ataksia.
d. Kolaborasi dalam pemberian obat sesuai indikasi.
Rasional: pemberian obat sesuai dengan indikasi untuk menangani dan mencegah terjadinya kejang.

Dx 4
Tujuan:
Menyatakan nyeri hilang/terkontrol, terlihat rileks, istirahat/tidur dan peningkatan aktivitas dengan tepat.
Intervensi:
a. Tentukan karakteristik nyeri seperti tajam, konstan dan ditusuk.
Rasional: nyeri dapat timbul sebagai akibat peningkatan TIK.
b. Pantau tanda vital.
Rasional: perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri.
c. Berikan lingkungan yang tenang, ruangan agak gelap sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan reaksi terhadap stimulasi dari luar dan sensivitas terhadap cahaya dan meningkatkan istirahat/relaksasi.
d. Berikan kenyamanan misalnya pijat punggung, perubahan posisi, musik tenang, relaksasi latihan nafas.
Rasional: dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesik.
e. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi.
Rasional: menurunkan menghilangkan nyeri yang berat.

Dx 5
Tujuan:
Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal yang ditunjukkan oleh tidak adanya kontraktur, foodrop, mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi umum.
Intervensi:
a. Bantu rentang gerak aktif/pasif.
Rasional: meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi dan mencegah kontraktur/atropi.
b. Bantu mobilisasi dengan alat bantu.
Rasional: mobilisasi dini dapat menurunkan komplikasi tirah baring, serta dapat mempertahankan mobilisasi yang optimal dan menjamin keamanan pasien.
c. Bantu perwatan diri.
Rasional: agar dapat meningkatkan kontrol pasien dalam situasi serta untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien.
d. Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk atau latihan nafas dalam.
Rasional: untuk mencegah terjadinya insiden komplikasi pada kulit maupun pernafasan.
e. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi dan rehabilitasi.
Rasional: untuk membantu aktivitas individu dan program latihan.

Dx 6
Tujuan:
Meningkatkan tingkat kesadaran dan fungsi persepsi, perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu.
Intervensi:
a. Pantau secara teratur perubahan orientasi, kemampuan berbicara, dalam perasaan/afektif, sensorik dan proses pikir.
Rasional: perubahan orientasi, kemampuan berbicara, alam perasaan/afektuf, sensorik, dan proses pikir dapat terjadi sebagai akibat gangguan situasi dan oksigenasi jaringan serebral.
b. Kaji kesadaran sensorik seperti respon sentuhan, panas/dingin, benda tajam/tumpul dan kesadaran terhadap gerakan dan letak tubuh.
Rasional: semua sistem sensorik dapat terpengaruh dengan adanya perubahan yang melibatkan peningkatan, penurunan atau kehilangan sensitivitas serta kemampuan untuk menerima dan berespon secara sesuai pada stimulasi.
c. Hilangkan suara bising/stimulus yang berlebihan sesuai kebutuhan.
Rasional: menurunkan ansietas, respon emosi yang berlebihan yang berhubungan dengan sensorik yang berlebihan.
d. Berbicara dengan suara yang lembut dan pelan. Gunakan kalimat yang pendek, jelas, pertahankan kontak mata saat berkomunikasi.
Rasional: pasien mungkin mengalami keterbatasan perhatian/pemahaman selama fase akut dan penyembuhan. Tindakan ini dapat membantu pasien untuk memunculkan komunikasi.
e. Berikan stimulasi yang bermafaat: verbal (berbincang-bincang dengan pasien), penciuman (seperti terhadap kopi atau minyak tertentu), taktil (sentuhan, memegang tangan pasien) dan pendengaran (dengan suara tape, radio atau pengunjung lainnya).
Rasional: pilihan masukan sensorik secara cermat bermanfaat untuk menstimulasi pasien koma dengan baik selama melatih kembali fungsi kognitifnya.
f. Berikan kesempatan yang lebih banyak untuk berkomunikasi dan melakukan aktivitas.
Rasional: menurunkan frustasi yang berhubungan dengan perubahan kemampuan/pola respon yang memanjang.
g. Kolaborasi dengan ahli fisioterapy, terapi okupasi, terapi wicara dan kognetif.
Rasional: meningkatkan evaluasi dan fungsi fisik, kognitif dan keterampilan perseptual pasien melalui pendekatan interdisiplin.

Dx 7
Tujuan:
Orang tua tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang, mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.
Intervensi:
a. Kaji status mental dan tingkat ansietas dari pasien/keluarga.
Rasional: derajat ansietas dipengaruhi oleh besarnya informasi yang diketahui oleh keluarga.
b. Berikan penjelasan hubungan proses penyakit dan gejalanya.
Rasional: meningkatkan pemahaman, mengurangi rasa takut karena ketidaktahuan dan dapat membantu menurunkan ansietas.
c. Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan.
Rasional: dapat meringankan ansietas yang dialami oleh keluarga.
d. Berikan petunjuk mengenai sumber-sumber penyokong yang ada.
Rasional: memberikan jaminan bahwa bantuan yang diperlukan adalah penting untuk meningkatkan/menyokong mekanisme koping keluarga.

Dx 8
Tujuan:
Orang tua paham dan mengerti tentang kondisi dan perawatan anak.
Intervensi:
a. Kaji tingkat pengetahuan orang tua tentang kondisi dan perawatan anak.
Rasional: untuk mengetahui pemahaman ibu serta untuk melanjutkan intervensi selanjutnya.
b. Informasikan pada orang tua dan keluarga tentang proses penyakit, prosedur perawatan
Rasional: untuk meningkatkan pengetahuan orang tua tentang proses penyakit dan prosedur perawatan.
c. Dorong orang tua dan keluarga untuk ikut berpartisipasi dalam perawatan bayi
Rasional: meningkatkan rasa kedekatan dan keikutsertaan keluarga dan perawatan

Dx 9
Tujuan:
Jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih, tidak ada dispnea, tidak ada sianosis.
Intervensi:
a. Kaji frekuensi/ kedalaman pernapasan dan gerakan
Rasional: tachipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris terjadi karena ketidaknyamanan gerakan dingding dada
b. Auskultasi area paru, catat area penurunan / tak ada aliran udara dan bunyi nafas adventisius misalnya krekles, mengi.
Rasional: penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan merespon terhadap spasme jalan nafas.
c. Bantu pasien latihan nafas sering.
Rasional: Latihan nafas sering memudahkan ekspani maksimum paru – paru.
d. Lakukan penghisapan lendir sesuai indikasi
Rasional: merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas secara mekanik
e. Delegatif dalam pemberian obat sesuai indikasi seperti mukolitik, ekspektoran, bronkodilator, analgetik.
Rasional: menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret
f. Delegatif pemberian O2
Rasional: mempertahankan PaO2 dalam batas normal.
g. Delegatif dalam pemberian cairan tambahan misalnya melalui IV
Rasional: cairan diperlukan untuk menggantikan kehilangan

Dx 10
Tujuan:
Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan, berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
Intervensi:
a. Kaji frekuensi, kedalaman, dan kemudahan bernafas
Rasional: manifestasi distress pernafasan tergantung pada derajat keterlibatan paru.
b. Obsevasi warna kulit, membran mukosa, dan kuku. Catat adanya sianosis perifer
Rasional: sianosis kuku menunjukan vasokontriksi namun sianosis kulit dan membran mukosa menunjukan hipoksemia sistemik.
c. Kaji status mental
Rasional: gelisah, mudah tersinggung, bingung menunjukan hipoksemia.
d. Awasi frekuensi jantung / irama
Rasional: tachikardi dapat terjadi sebagai respon hipoksemia.
e. Awasi suhu tubuh, bantu tindakan kenyamanan untuk menurunkan demam.
Rasional: demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik
f. Berikan terapi oksigen sesuai indikasi.
Rasional: mempertahankan PaO2

Dx 11
Tujuan:
Mempertahankan berat badan dalam kondisi normal, asupan makanan yang adekuat.
Intervensi:
a. Ijinkan anak untuk memakan makanan yang dapat ditoleransi anak, rencanakan untuk memperbaiki kualitas gizi pada saat selera makan anak meningkat.
Rasional: peningkatan asupan nutrisi pada anak saat kondisi tubuh mulai membaik dapat meningkatkan kualitas gizi anak.
b. Beri makanan yang disertai dengan suplemen nutrisi untuk meningkatkan kualitas intake nutrisi.
Rasional: tambahan suplemen dapat membantu pemenuhan nutrisi anak yang tidak terpenuhi melalui makanan.
c. Anjurkan kepada orang tua untuk memberikan makanan dengan teknik porsi kecil tetapi sering.
Rasional: teknik porsi kecil dan sering dapat meningkatkan status nutrisi anak dan mengurangi rasa mual dan muntah yang diakibatkan oleh perjalanan penyakit dalam tubuh
d. Timbang BB setiap hari pada waktu yang sama, dan dengan skala yang samanya kemajuan dari perawatan yang diberikan pada bayi.
Rasional: peningkatan BB secara perlahan – lahan setiap hari akan menunjukan adanya kemajuan dari perawatan yang diberikan pada bayi.
e. Pertahankan kebersihan mulut pasien
Rasional: kebersihan oral yang baik akan membantu meningkatkan nafsu makan.
f. Jelaskan pentingnya intake nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan penyakit.
Rasional: peningkatan pengetahuan yang dimiliki orang tua akan dapat membantu dalam rangka perawatan anak yang intensif.

Dx 12
Tujuan:
Mempertahankan suhu tubuh pada pasien dalam batas normal ( 365 0C – 375 0C)
Intervensi:
a. Ukur tanda – tanda vital: suhu
Rasional: peningkatan suhu tubuh pada pasien meningitis sering terjadi secara berfluktuatif. Deteksi secara dini dapat membantu dalam penanganannya
b. Ajarkan keluarga dalam pengukuran suhu
Rasional: mengikutsertakan keluarga dalam perawatan anak sebagai deteksi dini terhadap peningkatan suhu tubuh yang ekstrim.
c. Lakukan ” tepid sponge ”( seka ) dengan air biasa
Rasional: pemberian tepid sponge dapat membantu menurunkan panas tubuh melalui proses konduksi
d. Tingkatkan intake cairan
Rasional: peningkatan intake cairan yang adekuat dapat membantu penurunan panas karena cairan yang menguap dari dalam tubuh dapat tergantikan
e. Kolaboratif dalam pemberian antiperetik
Rasional: membantu mempertahankan suhu tubuh dalam batas normal secara farmakologis.

Dx 13
Tujuan:
Meningkatkan kemampuan anak untuk melakukan tugas tumbang yang sesuai dengan tugas dalam tahap tumbang sesuai umur.
Intervensi:
a. Kaji tingkat perkembangan anak menggunakan DDST II
Rasional: mendeteksi adanya gangguan perkembangan
b. Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan anak sesuai dengan usianya
Rasional: mengetahui sejauh mana sudah melaksanakan tugas perkembangannya
c. Beri kesempatan anak untu memenuhi tugas perkembangannya
Rasional: memastikan tugas perkembangan anak untuk tetap berjalan.
d. Kaji pola dan kebiasaan makan anak sebelumnya
Rasional: menetapkan status nutrisi anak sesuai dengan umur.
e. Timbang BB secara rutin, misal setiap 3 hari
Rasional: menetapkan status nutrisi anak sesuai dengan umur.
f. Tingkatkan frekuensi makan setiap 3-4 jam dan selingi makanan kecil yang tinggi kalori dan protein.
Rasional: membantu memenuhi nutrisi anak pada proses penyembuhan anak

IV. PELAKSANAAN
Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik ( Iyer et al, dalam nursalam, 2001 ). Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditunjukan pada nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.
Fokus terhadap pelaksanaan tindakan keperawatan adalah kegiatan pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional. Pendekatan tindakan keperawatan yang digunakan meliputi tindakan independen, dependen, dan interdependen ( Nursalam, 2001 ). Pelaksanaan tindakan keperawatan juga harus diikuti dengan pencatatan yang lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.
Pelaksanaan tindakan keperawatan pada anak dengan meningitis disesuaikan dengan rencana yang disusun pada tiap diagnosa keperawatan.

V. EVALUASI
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan Meningitis menurut Doenges (2001), adalah:
a. Pasien dapan mencapai penyembuhan tepan waktu, tanpa bukti penyebaran endogen atau keterlibatan orang lain.
b. Pasien dapat mempertahankan tingkat kesadaran membaik, fungsi sensorik dan motorik yang optimal, perbaikan kognitif serta tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
c. Pasien tidak mengalami cedera kejang/penyerta atau cedera lain.
d. Pasien menyatakan nyeri hilang/terkontrol, terlihat rileks, istirahat/tidur dan peningkatan aktivitas dengan tepat.
e. Pasien dapat mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal yang ditunjukkan oleh tidak adanya kontraktur, foodrop, mempertahankan/meningkatkan kekuatan dan fungsi umum.
f. Pasien dapat meningkatkan tingkat kesadaran dan fungsi persepsi, perubahan dalam kemampuan dan adanya keterlibatan residu.
g. Orang tua tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang, mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.
h. Orang tua paham dan mengerti tentang kondisi dan perawatan anak.
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan Meningitis menurut Suriadi dan Rita (2001), yaitu:
i. Jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih, tidak ada dispnea, tidak ada sianosis, respirasi rate dalam rentang normal.
j. Perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distress pernafasan, berpartisipasi pada tindakan untuk memaksimalkan oksigenasi.
k. Mempertahankan berat badan dalam kondisi normal, asupan makanan yang adekuat, pasien tidak mengeluh penurunan nafsu makan.
Evaluasi yang diharapkan pada asuhan keperawatan Meningitis menurut Carpenito (2000), yaitu:
l. Mempertahankan suhu tubuh pada pasien dalam batas normal ( 365 0C – 375 0C).
m. Pasien dapat melakukan tugas tumbang yang sesuai dengan tugas dalam tahap tumbang sesuai umur.

KANDUNGAN KOLOSTRUM PADA ASI

A. KOLOSTRUM
• Merupakan cairan yang pertam kali disekresi oleh kelenjar payudara,mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar payudara sebelum dan sesudah masa puerperium
• Disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ke tiga atau hari keempat
• Komposisi dari kolostrum ini dari hari kehari selalu berubah
• Merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matur.
• Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran pencernaan makanan bayi bagi makanan yang akan dating.
• Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI yang matur, tetapi berlainan dengan ASI yang matur,pada kolostrum protein yang utama adalah globulin ( gamma globulin )
• Lebih banyak mengandung antibody dibandingkan dengan ASI yang matur,dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai umur 6 bln.
• Kadar karbohidrat dan lemak rendah jika dibandingkan ASI matur.
• Mineral, terutama natrium, kalium ,dan klorida lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu matur.
• Total energi lebih rendah jika dibandingkan dengan susu matur hanya 58 kal/ 100 ml kolostrum.
• Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan Asi matur, sedangkan vitamin yang larut dalam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
• Bila dipanaskan akan menggumpal, sedangkan ASI matur tidak.
• pH lebih alkalis dibandingkan dengan ASI matur.
• Lipidnya lebih banyak mengandung kolesterol dan lesitin dibandingkan dengan ASI matur.
• Terdapat tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein di dalam usus bayi menjadi kurang. Hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibodi pada bayi.
• Volume berkisar 150-300 mL/ 24 jam.

B. KANDUNGAN KEKEBALAN DALAM ASI
• Imunoglobulin
Didalam kolostrum susu ibu,konsentrasi imunoglobulin ini sangat tinggi seperti terlihat dalam tabel di bawah ini ( Michael dkk,1971) dalam mg/100ml kolostrum.
Hari I : 600 Ig A,80 Ig G dan 125 Ig M.
Hari II : 260 Ig A,30 Ig g DAN 65 Ig M.
Hari III : 200 Ig A, 30 Ig G dan 58 Ig M.
Hari IV : 80 Ig A, 16 Ig G dan 30 Ig M.
Imunoglobulin terpenting dan terbanyak di dalam darah manusia adalah imunoglobulin G; kadar Ig A hanya 1/5 daripada kadar Ig G. Sebaliknya didalam ASI imunoglobulin A merupakan imunoglobulin yang terpenting, tidak saja karena konsentrasinya yang tinggi, juga karena aktivitas biologiknya. Dari kelas Ig A ini, Ig A yang paling dominan, 90 % daripada seluruh kadar imunoglobulin di dalam kolostrum maupun ASI matur. Dikatakan bahwa, kadar imunoglobulin di dalam payudara kiri dan payudara yang kanan adalah sama dan kadar ini juga konstan di dalam ASI, berarti kadar ini selalu sama baik pada permulaan laktat maupun pada akhir dan juga konstan tiap 24 jamnya.

HIV/AIDS

PENGERTIAN HIV / AIDS
HIV merupakan kependekan dari Human Imunodificiency Virus atau nama lainnya adalah Retrovirus. HIV dapat menyebar dari satu orang ke orang lainnya dengan cara yang spesifik dan menyebabkan system kekebalan tubuh kita menjadi lemah dan mudah terinfeksi oleh suatu penyakit. Bila anda terinfeksi HIV virus ini akan hidup di dalam tubuh anda kurang lebih selama sepuluh tahun atau lebih sebelum anda menunjukan suatu gejala. Selama waktu tersebut anda mungkin terlihat sehat, tetapi anda sebenarnya berpontesial menularakan virus tersebut kepada orang lain. Pada kenyataanya orang memiliki HIV bahkan tidak tahu mereka terinfeksi. Setelah seseorang terinfeksi HIV, dalam 5 tahun akan menunjukan gejala sebagai berikut:
a lebih dari 90% orang teinfeksi HIV akan mengalami imunodefisiensi ( jumlah maupun fungsi sel T menurun)
b 20 – 50% akan menjadi AIDS Related Compleks/ Illnes
c 10 – 30% dapat diduga menjadi kasus AIDS
AIDS adalah singkatan dari : Acquired immune deficiency Syndrom. AIDS adalah gejala penyakit yang disebabkan oleh HIV, yang mengakibatkan rusak dan menurunnya system kekebalan tubuh manusia sehingga tubuh akan mudah terinfeksi dan beresiko untuk menjadi keganasan.

PENYEBAB AIDS
AIDS disebabkan oleh suatu retrovirus yang kini disebut Human Immunodefiency Virus ( HIV). HIV sangat lemah dan mudah mati di luar tubuh manusia. Virus ini masuk melalui penularan ke pembuluh darah lalu ke kelenjar bening hingga merusak Limfosit T. sel limfosit T merupakan titk pusat system pertahanan tubuh yang secara fungsional berperan untuk :

a Mengenal Antigen
b Reaksi Hipersensitivitas tipe lambat
c Imunitas seluler untuk aktifitas sototoksik
Apabila vurus ini dapat menyerang dan menghancurkan sel T maka fungsi sel ini akan terganggu, dimana sebelumnya sel T akan menghancurkan kuman atau virus yang menyerang tubuh kini dengan hancurnya sel T maka system kekebalan tubuh tidak bisa lagi menyerang dan menghancurkan mikroorganime penghasil penyakit sehingga tubuh muda terinfeksi oleh suatu penyakit.

MEKANISME PENULARAN HIV / AIDS
Terdapat 4 cara yang telah di buktikan menjadi mekanisme penularan penyakit ini.
a. Perilaku hubungan seksual yang bebas atau sering berganti ganti pasangan sangat beresiko untuk tertular HIV. Penularan HIV dapat juga terjadi jika melakukan hubungan sexual yang tidak terlindung atau tanpa mengunakan kondom, melalui hubungan vagina, anal ataupun oral dengan seseorang yang terinfeksi. Bila seseorang melakukan hubungan seksual vagina anal ataupun oral, HIV dalam darah, semen atau cairan vagina dari orang terinfeksi dapat mengalir kedalam membran mukosa, dimana di bawah membran mukosa adalah pembuluh darah. Dari sana virus dapat mencapai aliran darah.
b. Anda dapat tertular HIV bila jarum suntik yang anda gunakan tidak steril seperti pengunaan jarum suntik bersama pada pecandu narkotika. Salah satu cara yang paling pasti untuk tertular HIV adalah dengan mengunakan jarum suntik yang mengandung virus. Setelah seseorang dengan HIV menggunakan jarum suntik , setes kecil darah terinfeksi tertinggal dalam jarum tersebut , ini cukup untuk menulakan HIV pada orang lain.
c. Anda dapat tertular HIV melalui transaksi darah dari seseorang yang terinfeksi. Tetapi resiko tertular HIV dari transaksi sekarang ini amat kecil karena semua darah yang di donorkan untuk transaksi darah telah diperiksa terhadap HIV.
d. Wanita Hamil pengidap HIV dapat menularkan virus pada anaknya sebelum atau sesudah lahir. Bila wanita hamil memiliki HIV dalam darahnya,kemungkinan bahwa wanita tesebut akan menularkannya kepada janinnya selama kehamilan atau selama kelahiran bayi tersebut.

GEJALA-GEJALA AIDS
AIDS adalah penyakit menular yang dengan cepat menyebar. Berikut gejala-gejala bila seseorang menderita AIDS :
a. Setelah masuknya HIV ke dalam tubuh, timbul gejala-gejala umum ringan seperti flu. Gejala-gejala tersebut hilang dengan sendirinya.
b. Sejak masuknya HIV ke dalam tubuh sampai munculnya gejala penyakit, waktunya bervariasi antara 6 bulan sampai 7 tahun. Rata-rata 21 bulan pada anak-anak dan 60 bulan pada orang dewasa.
c. Gejala non spesifik AIDS related compleks (ARC) yang berlangsung lebih dari 3 tahun :

1) Berat badan menurun lebih dari 10%.
2) Sering demam (lebih dari 38%C) disertai keringat malam tanpa sebab yang jelas.
3) Diare kronis tanpa yang jelas.
4) Rasa lelah yang berkepanjangan.
5) Hairy leukoplacia pada lidah.
6) Herpes zoster.
7) Kandidosis rongga mulut.
8) Pembesaran limfonoduli / pembesaran kelenjar limfe
d. Gejala-gejala AIDS yang lengkap adalah gejala-gejala ARC disertai satu atau dua penyakit oportunistik( infeksi yang tidak dapat terjadi pada orang normal) yaitu Pneumocystis carinii yang merupakan infeksi parasit pada paru-paru dan atau Sarcoma Kaposi, suatu jenis kanker yang tersebar pada kulit /mulut ( terdapat pada 80% dari penderita AIDS di Anerika).

TINDAKAN – TINDAKAN YANG BERESIKO MENULARKAN HIV / AIDS

a. Orang yang mempunyai banyak pasangan seksual dan tidak melakukan hubungan secara aman
b. Penerima tranfusi darah dari donor yang terinfeksi HIV
c. Bayi dari ibu yang pengidap HIV/AIDS
d. Pecandu narkoba suntik

TINDAKAN – TINDAKAN YANG TIDAK BERISIKO MENULARKAN HIV / AIDS
a. Hidup serumah dengan penderita AIDS
b. Kontak dengan alat makan dan minum penderita
c. AIDS tidak menular melalui toilet atau peralatan kamar kecil
d. Berpelukan atau berciuman kecuali bila ada luka pada mulut
e. Di gigit serangga.
f. Berenang dan hubungan social lainnya.

USAHA – USAHA UNTUK MENCEGAH PENYEBARAN HIV / AIDS
Ada beberapa cara untuk mencegah terjadinya penyebaran AIDS, antara lain:
a. Hindari hubungan seks di luar nikah. Usahakan hanya berhubungan dengan satu orang mitra seksual yang tidak berhubungan dengan orang lain.
b. Pergunakan kondom bagi kelompok resiko karena AIDS.
c. Mintalah jarum suntik yang baru pada dokter bila anda hendak disuntik
d. Ibu-ibu yang telah mengetahui dirinya terinfeksi HIV/AIDS hendaknya jangan hamil karena dapat menularkan penyakitnya pada janinnya
e. Mencegah kelompok resiko tinggi terkena AIDS menjadi donor darah
f. Tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian terutama pada pengguna narkotika

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR

ASUHAN KEPERAWATAN LUKA BAKAR
( COMBUSTIO)


Luka bakar dapat dialami oleh siapa saja dan dapat terjadi dimana saja, baik dirumah, tempat kerja, bahkan dijalan atau ditempat – tempat lain. Luka bakar menjadi masalah oleh karena angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Kematian umumnya terjadi dalam waktu 7 hari pertama masa perawatan ( masalah jangka pendek ), sementara sisa kasus yang bertahan hidup menghadapi masalah tersendiri, antara lain lamanya masa perawatan antara 40 – 148 hari rawat dan penyulit yang timbul ( masalah jangka panjang ).
Penyebab luka bakar bermacam – macam, bisa berupa api, cairan panas, uap panas, bahan kimia, aliran listrik dan radiasi. Luka bakar yang terjadi akan menimbulkan kerusakan kulit yang dapat mempengaruhi berbagai system tubuh. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di Unit Luka Bakar RSUPN Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta, selama tahun `98, ternyata inti permasalahan terletak pada kekurangan dalam penilaian dan penatalaksanaan pertama, khususnya tindakan resusitasi cairan pada fase syok yang akan sangat menentukan kondisi maupun tindakan selanjutnya ( Yefta Moenadjat, 2001 ).
Syok hipovolemik pada fase akut menyebabkan hipoksi jaringan yang berlanjut dengan kegagalan fungsi organ – organ penting, seperti ginjal, paru, otak, hepar, dan jantung. Kondisi hipoksi ini, menginduksi terjadinya proses respons inflamasi sistemik ( Systemic inflammatory response syndrome ) dan berakhir dengan kematian; yang selalu diduga sebagai sepsis.
20 tahun yang lalu, orang dewasa yang mengalami 50% luka bakar, mempunyai kesempatan untuk bertahan hidup kurang dari 50%. Pada saat ini, orang dewasa dengan luka bakar seluas 75%, mempunyai kesempatan untuk hidup 50% dan ini bukan hal yang luar biasa, jika pasien mendapatkan perawatan yang serius di unit perawatan khusus luka bakar ( Feller & Jones, 1987 dalam Christantie Effendi, 1999 ).

LUKA BAKAR
• Pengertian
Luka baker adalah kerusakan jaringan tubuh / cedera traumatic yang disebabkan kontak dengan sumber panas ( Api, cairan panas, bahan kimia, listrik dan radiasi ).
• Fase Luka Bakar
1. Fase Awal / Akut / Shock
Pada fase ini, terjadi gangguan saluran nafas karena adanya cedera inhalasi dan gangguan sirkulasi yang mengakibatkan gangguan keseimbangan sirkulasi cairan dan elektrolit akibat cedera termis yang bersifat sistemik.
2. Fase Setelah Shock Berakhir / Diatasi / Subakut
Luka terbuka akibat kerusakan jaringan ( kulit dan jaringan dibawahnya ) menimbulkan masalah, antara lain :
a)Proses inflamasi
Bakar (LB) lebih hebat disertai eksudasi dan “kebocoran” protein. Reaksi inflamasi local, kemudian berkembang menjadi reaksi sistemik dengan dilepasnya zat – zat yang berhubungan dengan proses imonologik, yaitu kompleks lipoprotein yang menginduksi respons inflamasi sistemik.
b)Infeksi yang dapat menimbulkan sepsis.
c)Proses penguapan cairan tubuh disertai panas / energi ( evaporative heat loss ) yang menyebabkan perubahan dan gangguan proses metabolisme.
3. Fase Lanjut
Berlangsung setelah terjadi penutupan luka sampai terjadi maturasi. Permasalahan yang terjadi adalah timbulnya penyulit dari LB berupa parut hipertropik, kontraktur dan deformitas lain yang terjadi karena kerapuhan jaringan atau organ – organ strukturil.

PERUBAHAN FISIOLOGIS PENUAAN

Sistem musculoskeletal
a.Jaringan penghubung (kolagen dan elastin). Kolagen sebagai protein pendukung utama pada kulit, tendon, tulang, kartilago, dan jaringan pengikat mengalami perbahan menjadi bentangan cross linking yang tidak teratur.perubahan pada kolagen itu merupakan penyebab turunnya fleksibilitas pada lansia sehingga menimbulkan dampak berupa nyeri, menurunnya kemampuan untuk meningkatkan kekuatan otot, kesulitan bergerak dari duduk ke berdiri, jongkok dan berjalan, dan hambatan dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
b.Kartilago. Jaringan kartilago pada persendian menjadi lunak dan mengalami granulasi dan akhirnya permukaan sendi menjadi rata.perubahan tersebut sering terjadi pada sendi besar penumpu berat badan. Akibat perubahan itu sendi mengalami peradangan, kekakuan, nyeri, keterbatasan gerak, dan terganggunya aktifitas sehari-hari.
c.Tulang. Berkurangnya kepadatan tulang, setelah diobservasi, adalah bagian dari penuaan fisiologis. Trabekula longitudinal menjadi tipis dan trabekula transversal terabsorpsi kembali.dampak berkurangnya kepadatan akan mengakibatkan osteoporosis.
d.Otot. Perubahan struktur otot pada penuaan sangat bervariasi. Penurunan jumlah dan ukuran serabut otot, peningkatan jaringan penghubung, dan jaringan lemak pada otot mengakibatkan efek negative. Dampak perubahan morfologis otot adalah penurunan kekuatan, penurunan fleksibilitas, peningkatan waktu reaksi, danpenurunan fungsional otot.
e.Sendi.pada lansia, jaringan ikat sekitar sendi seperti tendon, ligament, dan fasia mengalami penurunan elastisitas. Beberapa kelainan akibat perubahan pada sendi yang banyak terjadi pada lansia antara lain osteoarthritis, arthritis rheumatoid, gout, psedogoud. Kelainan tersebut dapat menimbulkan gangguan berupa bengkak, nyeri, kekakuan sendi, keterbatasan luas gerak sendi, gangguan jalan, dan aktifitas keseharian lainnya.

Sistem saraf
Lansia mengalami penurunan koordinasi dan kemampuan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Penuaan menyebabkan penurunan persepsi sensorik dan respon motorik pada susunan saraf pusat dan penurunan reseptor proprioseptif. Perubahan tersebut mengakibatkan penurunan fungsi kognitif, koordinasi, keseimbangan, kekuatan otot, reflex, proprioseptif, perubahan postur, dan peningkatan waktu reaksi.
Sistem kardiovaskuler dan respirasi
a.System kardiovaskuler. Massa jantung bertambah, ventrikel kiri mengalami hipertropi, dan kemampuan peregangan jantung berkurang karena perubahan pada jaringan ikat dan penumpukan lipofusin.
b.System respirasi. Pada penuaan terjadi jaringan ikat oaru. Kapasitas total paru tetap, tetapi volume cadangan paru bertambah. Volume tidal bertambah untuk mengompensasi kenaikan ruang rugi paru. Udara yang mengalir ke paru kurang. Perubahan pada otot, kartilago, sendi toraks mengakibatkan gerakan pernafasan terganggu dan peregangan toraks berkurang.

Sistem indra
a.System penglihatan erat kaitannya dengan presbiopi. Lensa kehilangan elastisitas dan kaku. Otot penyangga lensa lemah dan kehilangan tonus. Ketajaman penglihatan dn daya akomodasi dari jarak jauh atau dekat berkurang.
b.Gangguan pendengaran pada lansia umumnya disebabkan koagulasi caiaran yang terjadi selama otitis media atau tumor seperti kolesteatoma. Hilangnya sel-sel rambut klokear, reseptor sensorik primer system pendengaran atau sel saraf koklear ganglion.
c.System pengecap. Penurunan kemampuan pengecapan,peningkatan nilai ambang untuk identifikasi benda.
d.System penghidu. Degenerasi sel sensorik mukosa hidung, penurunan sensivitas nilai ambang terhadap bau.
e.System peraba. Penurunan kecepatn hantaran saraf, penurunan respons terhadap stimulus taktil, penyimpangan persepsi nyeri,risiko terhadap bahaya termal yang berlebihan.

Sistem integument
a.Perubahan morfologi :
- Peningkatan pigmentasi.
- Atrofi epidermis, glandula sbasea, glandula sudorifera, dan folikel rambut.
- Degenerasi kolagen dan elastin.
- Peningkatan viskositas aliran darah.
- Mutasi somatic.
- Pengurangan jaringan subkutan.
- Pengurangan lemak.
b.Perubahan fungsional :
- Kulit mengelupas, tipis, kering, keriput, dan mudah pecah.
- Cenderung terjadi bercak senilis berwarna merah ungu.
- Atrofi kuku, perubahan warna rambut abu-abu / putih.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENUAAN
Penuaan dapat terjadi secara fisiologis dan patologis. Bila seseorang mengalami penuaan fisiologis, diharapkan mereka tua dalam keadaan sehat. Penuaan itu sesuai dengan kronologis usia (penuaan primer), dipengaruhi oleh factor endogen, perubahan dimulai dari sel-jaringan-organ-sistem pada tubuh.bila penuaan banyak dipengaruhi oleh factor eksogen, yaitu lingkungan social budaya, gaya hidup disebut penuaan sekunder.

KAJIAN PSIKOSOSIAL LANSIA
Pada lansia terjadi penurunan kemampuan social dan finansialnya. Kelangsungan hidupnya akan menjadi tanggungan keluarga (anak-cucu) atau pemerintah (badan sosial). Dukungan social dan cara individu mengatasi masalah sangat berperan penting dalam proses munculnya penyakit. Dukungan social dan cara mengatasi masalah merupakan mediator dalam mengatasi penyakit yang berhubungan dengan stress. Dukungan social yang tinggi akan mempercepat pemecahan masalah yang dihadapi termasuk penyakit yang diderita.pelayanan di hospice lebih di fokuskan pada pengurangan rasa sakit dan bukan pada penyembuhan. Selain itu, juga di berikan persiapan untuk menghadapi kematian, baik kepada penderita ataupun keluarganya. Selain hospice, pendekatan system social lansia perlu digalakkan. Pendekatan itu lebih menitikberatkan interaksi antara individu dan system social yang luas, misalnya lansia tinggal bersama anak atau cucunya. Bagi yang kurang seimbang mentalnya, kesendirian yang dialami akan menimbulkan rasa terisolasi dan depresi yang dimanifestasikan dalam bentuk kecemasan, keluhan fisik tanpa kerusakan organis.

komunikasi terapeutik

1.Pengertian komunikasi terapeutik
Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi professional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien.
Komunikasi terapeuitik termasuk komunikasi interpersonal dengan titik tolak saling memberikan pengertian antar perawat dengan pasien. Persoalan mendasar dari komunikasi ini adanya saling kebutuhan antara perawat dan pasien, sehingga dapat dikategorikan ke dalam komunikasi pribadi diantara perawat dan pasien, perawat membantu dan pasien menerima bantuan.
2.Kegunaan
Fungsi komunikasi terapeutik adalah untuk mendorong dan menganjurkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasikan dan mengkaji masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan.
Proses komunikasi yang baik dapat memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien untuk dalam rangka mengatasi persoalan yang dihadapi pada tahap perawatan. Sedangkan pada tahap preventif kegunaannya adalah mencegah adanya tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.

3.Tujuan
Tujuan komunikasi terapeutik adalah
A.Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan pikiran serta dapat mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang ada bila pasien percaya pada hal yang diperlukan.
B.Mengurangi keraguan, membantu dalam hal mengambil tindakan yang efektif dan mempertahankan kekuatan egonya.
C.Mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan dirinya sendiri.
Komunikasi terapeutik merupakan bentuk ketrampilan dasar untuk melakukan wawancara dan penyuluha. Dalam praktek keperawatan, wawancara digunakan untuk berbagai tujuan misalnya : pengkajian, member penyuluhan kesehatan dan perencanaan perawatan dan sebagai media terapeutik.

4. Perbedaan komunikasi terapeutik dengan komunikasi sosial
Komunikasi Terapeutik
a.Terjadi antara perawat dengan pasien atau anggota tim kesehatan lainnya.
b.Komunikasi ini umumnya lebih akrab karena mempunyai tujuan, berfokus kepada pasien yang membutuhkan bantuan.
c.Perawat swcara aktif mendengarkan dan member respon kepada pasien dengan cara menunjukan sikap maumenerima dan mau memahami sehingga dapat mendorong pasien untuk berbicara secara terbuka tentang dirinya. Selain itu membantu pasien untuk melihat dan memperhatiakan apa yang tidak disadari sebelumnya.
Komunikasi sosial
a.Terjadi setiap hari antar orang per orang baik dalam pergaulan maupun lingkungan kerja.
b.Komunikasi bersifat dangkal karena tidak mempunyai tujuan.
c.Lebih banyak terjadi dalam pekerjaan, aaaaaaaaaktivitas social dll.
d.Pembicara tidak mempunyai focus tertentu tetapi lebih mengarah kebersamaan dan rasa senang.
e.Dapat direncanakan tetapi dapat juga tidak direncanakan.

5.Unsur-unsur komunikasi terapeutik
Unsur-unsur dari komunikasi terapeutik adalah :
a.Sumber Proses komunikasi yaitu pengirim dan penerima pesan. Prakarsa berkomunikasi dilakukan oleh sumber ini dan sumber juga menerima pesan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam mengirim.
b.Pesan pesan yang disampaekan dengan menggunakan penyedian baik yang berupa bahasa verbal maupun non verbal.
c.Penerima yaitu orang yang meneriam pengiriman pesan dan membalas pesan disampaikan oleh sumber, sehingga dapat diketahui mengerti tidaknya suatu pesan.
d.Lingkungan waktu komunikasi berlangsung, yang dalam hal ini meliputi saluran penyampaian dan penerimaan pesan serta lingkungan alamiah saat pesan disampaikan. Saluran penyampaian pesan melalui indra manusia yaitu: pendengaran, pengelihatan, pengecap, dan perabaan.

Rabu, 05 Agustus 2009

KONSEP UMUM PENGORGANISASIAN MASYARAKAT PENGORGANISASIAN MASYARAKAT (COMMUNITY ORGANIZING)

KONSEP UMUM PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
PENGORGANISASIAN MASYARAKAT (COMMUNITY ORGANIZING)
sesungguhnya adalah sebuah pemikiran dan pola kerja yang telah ada dan berlangsung sejak berabad-abad yang lampau, yaitu serangkaian upaya membangun masyarakat untuk mencapai taraf kehidupan yang lebih baik,lebih sejahtera dan adil dari sebelumnya dengan mengacu pada harkat dan martabat kemanusiaan seutuhnya.
sebagai suatu rumusan konsep pemikiran dan pola kerja paling tidak sudah dikenal pada masa kehidupan Lao Tse didataran cina,pada abad 7 sebelum Masehi.
Padaabad kedua puluh konsep dari pemikiran dan pola kerja Pengorganisasian Masyarakat tersebut menjadi populer kembali, sebagai reaksi terhadap gagasan dan praktek-praktek pembangunan atau"modernisasi"yang ternyata berujung pada tertekan harkat kemanusiaan dan pengurasan secara dasyat berbagai
sumber daya alam untuk kepentingan sekelompok kecil manusia di bumi ini.
SaulAlinsky dan Paulo Freire adalah sebagian dari tokoh-tokoh yang mengangkat kembali, dan mempraktekkan pemikiran dan pola kerja pengorganisasian masyarakat seiring dengan konsep yang telah dirumuskan oleh Lao Tse, walaupun terjadi perubahan-perubahan (tepatnya : penyesuaian) di tingkat teknik karena latar belakang dan kondisi masyarakat maupun jaman yang berbeda.
sampai sekarang yang telah dikenal oleh para aktivis Ornop mengenai intisari
pemikiran dalam Pengorganisasian Masyarakat adalah, bahwa :
1. Masyarakat memiliki daya dan upaya untuk membangun kehidupannya sendiri.
2. Masyarakat memiliki pengetahuan dan kearifan tersendiri dalam menjalani kehidupannya secara alami.
3. Upaya pembangunan masyarakat akan efektif apabila melibatkan secara aktif seluruh komponen masyarakat sebagai pelaku sekaligus penikmat pembangunan, serta
4. Masyarakat memiliki kemampuan membagi diri sedemikian rupa dalam peran-peran pembangunan mereka.
Semangat yang mendasari pilihan atas paradigma Lao-Tse tersebut pada dasarnya adalah mengembalikan harkat dan martabat manusia seutuhnya dalam berbagai gagasan dan proses pembangunan .
untuk itu strategi dasarnya adalah dengan jalan :
1. Menempatkan masyarakat sebagai SUBYEK utama pembangunan, baik dalam proses maupun pencapaian hasil pembangunan.
2. Gagasan suatu pembangunan masyarakat harus mengacu pada kepentingan dan kebutuhan mayarakat itu sendiri; serta
3. Pembangunan harus bertumpu pada potensi dan kemampuan masyarakat
Pengorganisasian Masyarakat, yang banyak terfokus pada lingkungan masyarakat marjinal, bekerja dengan mengajarkan komunitas atau masyrakat untuk membongkar bungkus alienasi (keterasingan) dan marjinalisasi (penyisihan) dengan jalan pembodohan da pemiskinan yang sudah terjadi secara yang sudah terjadi secara sistematis dan terstruktur.
Jadi, sebuah proses Pengorganisasian Masyarakat yang benar harus mampu memberiakan pencerahan dan penyadaran kepada komunitas bahwa kehidupan adalah milik bersama. Pengorganisasian Masyarakat juga harus dapat mengingatkan orang terhadap kecenderungan konsumtif, selalu mencari kemudahan dan pragmatis. Sehingga tidak lagi memiliki daya kreasi dan kemandirian dalam menjalani dan mensikapi kehidupan ini.
Pengorganisasian Masyarakat juga harus dapat mengingatkan orang terhadap kecenderungan konsumtif, selalu mencari kemudahan dan pragmatis.
Sehingga tidak lagi memiliki daya kreasi dan kemandirian dalam menjalani dan mensikapi kehidupan ini.
1. Definisi Pengorganisasikan Masyarakat
Secara Umum Pengorganisasian Masyarakat didefinisikan sebagai :
"Proses membangun kekuatan dengan melibatkan konstituen sebanyak mungkin melalui proses menemukenali ancaman yang ada secara bersama-sama, menemukenali penyelesaian-penyelesaian yang diinginkan terhadap ancaman-ancaman yang ada; menemu-kenali orang dan struktur, birokrasi, perangkat yang ada agar proses penyelesaian yang dipilih menjadi mungkin dilakukan, menyusun sasaran yang harus dicapai; dan membangun sebuah institusi yang secara demokratis diawasi oleh seluruh konstituen yang ada" (Dave Beckwith & Cristina Lopez, 1997).
Jadi pengorganisasian masyarakat bukan sekedar memobilisasi massa untuk suatu kepentingan, tetapi suatu proses pergaulan/pertemanan/persahabatan dengan suatu komunitas atau masyarakat yang lebih menitik-beratkan pada inisiatif masa kritis untuk mengambil tindakan-tindakan secara sadar dalam mencapai perubahan yang lebih baik.
2. Prinsip-prinsip Pengorganisir Masyarakat
Dalam menjalankan aktivitas pengorganisasian, prinsip yang harus dipegang dan dijadikan pedoman dalam berpikir dan berbuat bagi seorang pengorganisasi masyarakat adalah :
* Membangun pertemanan/persahabatan dengan komunitas atau masyarakat.
* Bersedia belajar dari kehidupan komunitas bersangkutan
* Membangun komunitas atau masyarakat dengan berangkat dari apa yang ada atau dimiliki oleh komunitas tersebut.
* Tidak berpretensi untuk menjadi pemimpin dan "tetua" dari komunitas tersebut.
* Mempercayai bahwa komunitas memiliki potensi dan kemampuan untuk membangun dirinya sendiri hingga tuntas.
Prinsip tersebut dirumuskan dari satu cuplikan ajaran Lao Tse (700 sm) yang lebih kurang berbunyi sebagai berikut :
"Datanglah kepada rakyat, hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka,mulailah dari apa yang mereka tahu; bangunlah dari apa yang mereka punya; tetapi pedamping yang baik adalah, ketika pekerjaan selesai dan tugas selesai, rakyat berkata, "kami sendiri yang kerja".

Kamis, 02 Juli 2009

sumber air

air di bumi merupakan hasil proses penguapan, peresapan dan pengaliran yang terus menerus. air dari permukaan tanah akan menguap, berubah menjadi awan, kemudian jatuh menjadi hujan atau salju. sebagian diserap tumbuh-tumbuhan dan sebagaian diserap tanah menjadi air tanah, yang sewaktu-waktu dapat memancarkan ke permukaan tanah bila lapisan tanah yang lunak, menjadi mata air.
menurut sumber/ asalnya, air dapat digolongkan menjadi :
1. air angkasa : air hujan, salju, es.
2. air permukaan : air sungai, air telaga, air waduk, air danau,air laut.
3. air tanah, yang dapat dibagi lagi menjadi :
a. air rembesan atau air tanah dangkal (air sumur gali, air pompa tangan)
b. air tanah dalam (air pompa dalam, sumur bor dalam)
c. air artesis (air yang memancar kuat ke atas)
d. mata air (sumber air yang keluar ke permukaan tanah dan dapat mengalir sendir)

Sabtu, 13 Juni 2009

Materi Penyuluhan Kondom

1. Pengertian Kondom

Kondom adalah alat kontrasepsi atau alat untuk mencegah kehamilan atau penularan penyakit kelamin pada saat bersanggama.Biasanya dibuat dari karet latex dan dipakaikan pada alat kelamin pria atau wanita pada keadaan ereksi sebelum bersanggama(bersetubuh)(berhubungan suami istri).

2. Gambaran Fisik Kondom

Kebanyakan kondom terbuat dari karet lateks tipis, tetapi ada yang membuatnya dari jaringan hewan (usus kambing) atau plastik (polietilen). Bentuknya ada yang ujungnya rata, ada juga yang ujungnya memiliki penampung untuk penampung sperma. Pada saat ini yang banyak beredar di pasaran adalah bentuk kondom yang memiliki bundaran kecil di ujungnya sebagai penampung sperma. Warnanya ada yang tidak tembus pandang, ada pula yang transparan, dengan berbagai macam warna. Sekarang ini, jenis transparan dengan berbagai macam warna sesuai aroma adalah yang banyak beredar di pasaran.Lubrikasinya ada yang menggunakan minyak silikon, Jelly, bedak atau yang kering. Jelly dan bedak untuk saat ini jarang digunakan pada kondom yang beredar di Indonesia. Ketebalannya kondom memiliki ketebalan yang standar dan tipis. Biasanya orang cenderung memilih yang sangat tipis untuk kenyamanan dalam pemakaian.Permukaannya hem, bergelombang, tidak licin. Sekarang ini permukaan kondom semakin bervariatif. Para produsen kondom lebih kreatif untuk menarik konsumen untuk menggunakan kondom. Misalnya saja sekarang banyak beredar kondom yang bergerigi, berulir dll. Hal ini betujuan untuk menambah sensasi dalam hubungan suami istri yang menggunakan kondom. Spermicida kondom yang beredar ada yang menggunakan spermicida, ada juga yang tidak. Spermicida yang digunakan biasanya nonoxyne-9 atau menfegol. Spermicida berfungsi untuk membunuh sperma. Penggunaan spermicida ini untuk menambah efektifitas kondom sebagai alat kontrasepsi.

3. Waktu penggunaan kondom

Kondom dapat di gunakan saat:

  1. Bila hubungan seksual dilakukan pada saat istri sedang dalam masa subur
  2. Bila istri tidak cocok dengan semua jenis alat/metode kontrasepsi
  3. Setelah vasektomi kondom perlu dipakai sampai enam minggu
  4. Sementara menunggu penggunaan metode/alat kontrasepsi lainnya
  5. Bagi calon peserta Pil KB yang sedang menunggu haid
  6. Apabila lupa minum pil KB dalam jangka waktu lebih dari 36 jam
  7. Apabila salah satu dari pasangan suami istri menderita Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
  8. Dalam keadaan tidak ada kontrasepsi lain yang tersedia atau yang dipakai pasangan suami istri
  9. Sementara menunggu pencabutan implant/susuk KB/alat ontrasepsi bawah kulit, bila batas pemakaian implant telah habis.

4. Cara menggunakan kondom

Adapun cara – cara penggunaan kondom adalah sebagai berikut:

  1. Pegang bungkus kondom dengan kedua belah tangan, lalu dorong kondom dengan jari ke posisi bawah. Tujuannya agar tidak tersobek saat membuka bungkusnya. Selanjutnya sobek bagian atas bungkus kondom
  2. Dorong kondom dari bawah agar keluar dari bungkusnya, kemudian pegang kondom dan perhatikan bagian yang menggulung harus berada di sebelah luar
  3. Pencet ujung kondom dengan ibu jari dan telunjuk agar tidak ada udara yang masuk dan letakan pada kepala penis.
  4. Pada saat kondom dipasang, penis harus dalam keadaan tegang (ereksi). Pasanglah kondom dengan menggunakan telapak tangan untuk mendorong gulungan kondom hingga pangkal penis (jangan menggunakan kuku karena kondom dapat robek).
  5. Setelah ejakulasi, cabut penis dari vagina ketika masih ereksi, dan tahan kondom di pangkal penis dengan jari agar kondom tidak lepas dan tidak meninggalkan air mani di vagina
  6. Setelah menggunakan, ikat kondom agar cairan sperma tidak keluar. Kondom bekas langsung dibuang ke tempat yang seharusnya, untuk mencegah mengkontaminasi orang lain, terutama anak-anak.

5. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan kondom

Jika ingin menggunakan kondom secara baik dan benar, kita harus memperhatikan beberapa hal, di antaranya:

  1. Periksalah tanggal kadaluwarsa pada bungkus kondom. Periksalah kondisi bungkus kondom, jangan menerima atau membeli kondom yang bungkusnya sudah rusak, ada gelembung udara di dalamnya dan berlubang
  2. Gunakan kondom baru setiap kali bersanggama
  3. Hati-hati membuka bungkus kondom, jangan sampai kondom sobek.
  4. Pasang kondom sebelum kontak genital, untuk mencegah masuknya sperma atau bibit penyakit ke dalam vagina, (atau sebaliknya)
  5. Hati-hati dalam memasang dan melepaskan kondom bagi mereka yang memiliki kuku panjang atau cincin dengan bagian yang tajam
  6. Jika pelican yang ada pada kondom dirasa kurang, gunakan lubrikan atau jelly yang dianjurkan. Jangan gunakan bahan-bahan seperti vaselin, lotion, atau produk minyak lainnya, karena dapat meningkatkan kemungkinan robeknya kondom.
  7. Bila kondom pecah atau robek selama senggama, gunakan segera spermisida (busa atau gel), dan pertimbangkan menggunakan kontrasepsi darurat, untuk mencegah terjadinya kehamilan.
  8. Simpan persediaan kondom di tempat yang sejuk dan kering. Jauhkan kondom dari sinar lampu neon, TL dan letakan di tempat yang tidak terkena matahari langsung atau di tempat yang panas.
  9. Sebaiknya tidak meletakan kondom di saku celana, karena suhu tubuh dapat mempengaruhi kualitas kondom. Jangan gunakan kondom bila terlihat rusak atau lapuk, karena cenderung robek.

6. Kelebihan kondom

Adapun kelebihan kondom adalah sebagai berikut:

  1. Efektif sebagai alat kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
  2. Murah dan mudah didapat tanpa resep dokter dan dapat didistribusikan oleh dan untuk masyarakat (community based)
  3. Praktis dan dapat dipakai sendiri 4. Tidak ada efek hormonal
  4. Dapat mencegah kemungkinan penularan Penyakit Menular Seksual termasuk HIV/AIDS
  5. Mudah dibawa
  6. Kondom menggunakan pelicin/pelumas sehingga dapat menambah frekuensi hubungan seksual dan secara psikologis menambah kenikmatan
  7. Kondom membantu suami yang mengalami ejakulasi dini.
  8. Adanya jaminan pengawasan kualitas produksi bahwa produk layak dipasarkan. Sebelum dipasarkan kondom harus diuji di laboratorium dan harus memenuhi Standar Internasional yang ditetapkan oleh ISO (International Organitation Standardization), CEN (Comitee European de Normalization), dan ASTM (American Socienty for Testing and Materials).

7. Kelemahan kondom

Adapun kelemahan kondom adalah sesagai berikut:

  1. Kadang-kadang ada pasangan yang alergi terhadap karet kondom
  2. Kondom hanya dapat dipakai satu kali
  3. Secara psikologis kemungkinan mengganggu kenyamanan
  4. Kondom kadaluarsa mudah sobek dan bocor.

8. Efektifitas kondom dalam mencegah kehamilan

Adapun efektifitas dari kondom adalah sebagai berikut:

  1. Efektif sebagai kontrasepsi bila dipakai dengan baik dan benar
  2. Angka kegagalan teoritis 3%, praktis 5 -20%
  3. Sangat efektif jika digunakan pada waktu istri dalam periode menyusui (Lactation Amenorrhae Method)
  4. Akan lebih efektif bila dikombinasikan dengan sistem kalender.

9. Tempat mendapatkan kondom

Kondom dapat diperoleh di:

  1. Apotek
  2. Klinik KB
  3. PPKBD ( Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa )/sub PPKBD
  4. Pos KB Desa
  5. Toko Obat
  6. Pasar Swalayan
  7. Puskesmas/puskesmas pembantu
  8. Vending Machine Kondom.

Pemeriksaan RAPIT-TEST COVID-19

Pemeriksaan RAPIT-TEST COVID-19 Mohon edukasi kepada masyarakat terkait pemeriksaan RAPID-TEST sebagai berikut : 1) Rapid-test bukan...